Tampilkan postingan dengan label Kliping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kliping. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juni 2014

Rabu, 11 Juni 2014

Bupati Resmikan Gedung UPK Banjarmangu

(BANJARNEGARA) - Gedung Unit Pengelola Kecamatan (UPK) Banjarmangu yang terletak di Jalan Banjarmangu - Wanadadi, Kamis (31/03) diresmikan penggunaannya oleh Bupati Banjarnegara Drs. Ir. Djasri, MM, MT.
Gedung yang difungsikan sebagai pusat kegiatan UPK dalam mengelola kegiatan program pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat tersebut berdiri di atas tanah seluas 392 m2.
Tanah yang terletak di lokasi strategis tersebut dibeli dengan harga Rp 87.150.000;- Sedangkan total biaya pembangunan gedung  utama seluas 9 m x 12 m dan bangunan kamar mandi dan dapur seluas 4 m x 4 m adalah sebesar Rp 217.764.900;-  “Pembangunan gedung dimulai pada tanggal 24 Desember 2010 dan selesai pada tanggal 26 Maret 2011” kata Sugeng Rahardjo Ketua Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD).
Pembangunan Gedung UPK ini, lanjut Sugeng, memang telah direncanakan sejak lama oleh Pengelola UPK yang berdiri pada tahun 2003 seiring dengan pengembangan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan. Hal tersebut dikarenakan jumlah anggota penerima manfaat kegiatan yang dikelola UPK telah berkembang semakin banyak, sehingga tempat  yang lama di ruang depan rumah dinas Camat dirasa kurang nyaman dan tidak memadai seiring meningkatnya aktivitas koordinasi dan konsultasi. “Karena itu, mulai tahun 2006 sampai akhir tahun 2009, UPK mengalokasikan anggaran sebesar 10% dari Total Surplus Netto untuk mewujudkan pembangunan gedung ini” katanya.
Camat Banjarmangu, Sri Sumarni, S. Sos berharap dengan telah berdirinya bangunan kantor UPK ini semua kebutuhan anggota dapat terlayani dengan baik. Karena sudah milik sendiri, waktu untuk koordinasi dan konsultasi jadi lebih luwes. Selain itu, dengan suasana kantor yang lebih nyaman Ia berharap semangat kerja pengurus meningkat. “Ada harapan, bila semangat kerja pengurus meningkat, maka harapannya surplus juga meningkat. Dampaknya akan semakin banyak masyarakat pedesaan yang menerima manfaat dari kehadiran program PNPM Mandiri melalui semakin kuatnya UPK ini” katanya.
Bupati Drs. Ir. Djasri, MM, MT berharap apa yang dicapai oleh UPK Banjarmangu ini ditiru oleh kecamatan-kecamatan lain. Terbukti melalui pengelolaan yang professional, UPK tumbuh menjadi lembaga keuangan mandiri yang mensuplai kebutuhan modal Rumah Tangga Miskin dengan baik. Bukan tidak mungkin, lanjutnya, pengelolaan yang professional ini dapat meningkatkan peran UPK seperti halnya lembaga keuangan swasta layaknya Bank dan BKK. Bila modal semakin besar, maka pagu pinjaman pun akan semakin besar.
“Perlu digaris bawahi, karena dana kegiatan ini bersumber dari dana pemerintah, maka prinsipnya semua dana memang harus dikembalikan ke masyarakat. Dengan demikian saya berharap UPK menerapkan jasa pinjaman yang lebih rendah dibandingkan bank professional” katanya.
Berkaitan dengan aktivitas UPK ini Djasri mengakui, bila peran PNPM Mandiri perdesaan dalam mengentaskan kemiskinan ini sangat terasa sekali pengaruhnya. Rumah Tangga Miskin yang membutuhkan modal untuk meningkatkan kemampuan ekonominya sangat tertolong melalui keberadaan program ini. Apalagi jatuhnya bantuan dan pengelolaannya yang langsung di tangan masyarakat, tak dipungkiri membuat program ini dinilai sangat aspiratif dan langsung pada sasaran.  “Terbukti masyarakat miskin bila diberi kesempatan dan pendampingan yang baik ternyata bisa memilih prioritas pembangunan bagi lingkungannya dan mampu mengelola keuangan dengan baik untuk peningkatan kesejahteraan bagi rumah tangganya” katanya

Sumber : SINI

Dana PNPM Wanayasa Macet

BANJARNEGARA-Dana bergulir PNPM di 15 Desa di Kecamatan Wanayasa macet sejak 2006 lalu. Diduga nilai kemacetan mencapai ratusan juta. Selasa kemarin 15 kades tersebut dikumpulkan oleh UPK PNPM Kecamatan Wanayasa untuk membahas kemacetan dana bergulir baik Usaha Ekonomi Produktif (UEP) maupun Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Pertemuan tersebut berlangsung tertutup.
    Salah seorang kades yang ditemui seusai acara tersebut membenarkan pertemuan tersebut membahas kemacetan dana bergulir PNPM. Baik UEP maupun SPP. Kemacetan dana tersebut rata-rata sejak tahun 2006 dengan jumlah kemacetan bervariatif per desa.
    "Saya sendiri tidak tahu pasti, total nominal kemacetan tersebut. Yang saya tahu untuk desa saya sendiri sebesar Rp 120 juta yang ditanggung beberapa kelompok. Namun diperkirakan rata-rata puluhan juta per desa. Pertemuan tersebut menyepakati penyelesaian kasus ini paling lambat 14 Desember 2010," ujar Kades Penanggungan, Panut.
    Ia mengatakan kemacetan tersebut berada di kelompok. Per orang ada yang macet Rp 100 ribu, Rp 200 ribu dan ada yang hingga Rp 2 juta. Terkait persoalan batas waktu tersebut pihaknya mengaku tidak ada masalah dan optimis bisa terselesaikan.
    Namun yang ia sayangkan mekanisme kontrol dari pengelola PNPM tahun-tahun sebelumnya. Adanya tunggakan yang menumpuk ini menandakan mekanisme kontrol kurang maksimal. "Jika tenggat waktu pengembalian mesti ditepati selayaknya harus dilakukan pendekatan terus menerus ke kelompok," ujarnya.
    Ketua Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) PNPM Kecamatan Wanayasa, Didik Hermawan saat ditemui membenarkan mengenai kemacetan dana tersebut. Ia mengatakan, kemacetan ini diketahui setelah ada audit keuangan dan laporan karena ada pergantian pengurus baru UPK. Terkait total kemacetan pihaknya tidak mau menyebutkan nominalnya, meski sempat tak sadar terlontar ungkapan Rp 1,2 milyar. Namun saat ditegaskan tidak mau mengaku. "Yang jelas di 15 desa sejak tahun 2006 hingga 2009. Kita mengetahui ada kemacetan ini setelah sebulan bertugas dari hasil audit laporan dan keuangan dan kenyataan di lapangan," ujarnya.
    Menurutnya kemacetan tersebut diperkirakan karena komunikasi yang kurang baik dari pelaksana sebelumnya dengan penerima program. Sebab melihat kondisi di lapangan, banyak penerima program yang masih menganggap dana tersebut tidak harus di kembalikan. Padahal dana bergulir ini mesti dilunasi tiap tahun. "Jika tahun berikutnya mereka juga menerima program, berarti ada sesuatu yang kurang tepat disini," ujarnya.
    Meski demikian pihaknya mengaku telah menembusi semua kelompok dan melakukan pendekatan persuasif. Sebagian besar dari mereka memahami dan mau melunasi sebelum akhir tahun 2010. Selain itu juga didukung pernyataan dari semua Kades di Wanayasa untuk mengatasi persoalan ini sebelum akhir tahun ini. (tom)
Sumber: http://radarbanyumas.co.id/index.php?page=detail_ban&id=137

85 Rumah Tangga Miskin Banjarmangu Terima Dana Plesterisasi



UANG PLESTERISASI: Bupati Djasri saat memberikan tali asih kepada warga miskin di Kecamatan Banjarmangu, Kabupoaten Banjarnegara,Jateng , Kamis (31/03). (foto:ebr/BNC)

BANJARNEGARA – 85 Rumah Tangga Miskin di wilayah Kecamatan Banjarmangu, Kamis (31/03) menerima dana Plesterisasi dari Unit Pengelola Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan Banjarmangu. Secara simbolis penyerahan bantuan dilakukan oleh Bupati Banjarnegara Drs. Ir. Djasri, MM, MT di sela-sela kegiatan peresmian Gedung baru UPK kepada perwakilan Rumah Tangga Miskin (RTM) Nikam Suryani dari desa Banjarmangu. Masing-masing RTM menerima dana plesterisasi sebesar Rp Rp 1.050.000;-.
Bupati Djasri menyambut baik apa yang dilakukan oleh UPK Banjarmangu karena telah secara nyata memberikan bantuan langsung kepada RTM yang bersumber dari pengembangan dana bantuan PNPM Mandiri Perdesaan. Hal ini, lanjutnya, patut ditiru oleh semua pengelola dana PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Banjarnegara. Karena menurut Djasri, apa yang dilakukan oleh UPK merupakan contoh dari keberhasilan program pengentasan kemiskinan yang sebenarnya. “Fasilitasi program yang dilakukan Pemerintah dikembangkan di tengah masyarakat. Jadi, masyarakat saling membantu saudaranya yang kekurangan secara mandiri” katanya.
Bila keberhasilan program PNPM Mandiri seperti ini dapat dilaksanakan di seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara, lanjutnya, bukan tidak mungkin angka kemiskinan di Kabupaten Banjarnegara yang sekarang mencapai 18%, akan mengalami penurunan lebih cepat lagi. Bukankah idealnya, imbuhnya, pembangunan itu merupakan suatu upaya bersama bahu membahu antara pemerintah dengan rakyat. “Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan rakyat menindaklanjuti dengan aktif dan cerdas upaya dari pemerintah tersebut” katanya.
Selanjutnya Djasri meminta kepada Pengelola UPK untuk terus mengembangkan kegiatannya seoptimal mungkin. Menurutnya, dengan pengelolaan dana Milyaran Rupiah dan dengan angka kredit macet sebesar 1% menunujukan pengurus UPK Banjarmangu telah bekerja dengan baik dan menunjukan juga bahwa UPK merupakan lembaga keuangan yang sehat. “Pesan saya, pegang terus kejujuran, kedisiplinan dan amanah yang Pengelola emban. Kehancuran suatu lembaga keuangan atau lembaga apapun akan terjadi ketika Pengelolanya tidak amanah dan tidak profesional” tegasnya.
Menurut Koordinator UPK, Ageng Manah, dana bantuan social tersebut berasal dari Surplus yang diperoleh dari pengelolaan Simpan Pinjam Khusus Perempuan (SPP) dan Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Surplus tersebut diprogramkan untuk dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pengembangan modal UEP dan SPP serta untuk Kegiatan Sosial. Untuk kegiatan social diarahkan pada peningkatan kesejahteraan Rumah Tangga Miskin. “Alokasi Surplus Netto UPK tahun 2010 sebesar Rp 95.308.000;- Untuk tahun 2011 kita patok target Rp 120 juta“ katanya.
Total asset yang dikelola UPK Banjarmangu, imbuhnya, adalah sebesar 3,3 M dengan dana produktif sebesar 3,05 M. Dana produktif tersebut dikelola untuk Usaha Ekonomi Produktif dan dalam bentuk simpan pinjam yang didistribusikan kepada 176 kelompok yang tersebar di 17 desa se wilayah kecamatan Banjarmangu. Rata-rata anggota kelompok adalah 15 orang dengan dana pinjaman maksimum per anggota 4 juta rupiah. “Dengan potensi seperti itu, capaian pertumbuhan kekayaan UPK dalam tahun 2010 mencapai 21 %” katanya.
Sementara itu, menurut Kepala KPMD Drs. Suroso, kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan secara garis besar terbagi dua yaitu kegiatan fisik dan non fisik. Kegiatanya berupa pembangunan sarana dan prasarana desa, Peningkatan Kualitas Hidup (PKH) serta Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Khusus Perempuan (SPP). “Untuk penyaluran dan pengelolaan Dana PNPM dillakukan melalui UPK ini” katanya.
Sedangkan tujuan dari pelaksanaan program Alokasi Dana Sosial RTM ini, lanjutnya, diantaranya adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahtaran RTM; mengurangi jumlah RTM. Dan yang berkaitan dengan harapan Bupati, imbuh Suroso, adalah menggali potensi masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan serta menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam hal peduli lingkungan. “Wujud nyata program dilaksanakan dalam bentuk plesterisasi RTM di seluruh wilayah Banjarmangu” katanya
Sumber : SINI

Kamis, 05 Juni 2014

Temu Nasional 2014: Seratus Suara dari Pelosok Nusantara


Pernyataan kebanggaan terhadap PNPM Mandiri dari para Duta PNPM 

Sebanyak 114 Duta PNPM Mandiri dari penjuru Indonesia berkumpul di Lapangan Sisi Barat Monumen Nasional (Monas), Jakarta pada 10 Mei 2014. Bersama mereka merayakan perubahan yang sudah mereka baktikan untuk kampung halamannya. Perjuangan bersama PNPM Mandiri dalam memberdayakan masyarakat menjadi mandiri dan bermartabat. Delapan cerita dari Duta PNPM tampil di atas pentas puncak acara Temu Nasional PNPM Mandiri 2014. 

Temu Nasional (Temnas) PNPM Mandiri merupakan acara akbar rutin Pokja Pengendali PNPM Mandiri yang bertujuan untuk memperkuat kerjasama para pelaku program dalam rangka mengidentifikasi berbagai capaian, kemajuan program serta berbagai langkah perbaikan yang diperlukan.
Temnas 2014 memiliki makna yang sangat strategis karena bersamaan dengan upaya pemerintah dalam meletakkan berbagai pondasi kebijakan bagi keberlanjutan gerakan-gerakan pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan di Indonesia paska pergantian kepemimpinan legislatif dan kepresidenan di Indonesia. Upaya tersebut tercermin dalam rumusan Peta Jalan (Road Map) PNPM Mandiri serta Undang-undang Desa yang sudah disahkan oleh DPR RI pada Desember 2013 lalu. 

 Tema pokok Temnas 2014 adalah “Bersama PNPM, Masyarakat Berdaya, Mandiri dan Bermartabat”. 

Para Duta PNPM berbicara di hadapan sekitar 1.000 orang yang memadati Monas terdiri dari tamu undangan, pejabat, tokoh nasional, pelaku PNPM Mandiri dari wilayah sekitar Jakarta, dan masyarakat yang datang ke Monas. Mereka mewakili jutaan kisah di balik perjuangan menuju masyarakat madani. 
Duta PNPM ini terdiri dari kader pemberdayaan masyarakat dari lokasi sulit, terpencil atau terisolir. Bahkan, Duta dari Toli-Toli harus berlayar selama 19 jam. Mereka aktif mendukung PNPM Mandiri dan menerima manfaat dari beragam program seperti PNPM Perdesaan, Perkotaan, PISEW, RIS, Generasi, Kelautan, Pariwisata, Pertanian, Peduli, dan Komunitas Kreatif. Mereka mampu menceritakan pengalaman membanggakan dan inovasi yang telah ditumbuhkan bersama PNPM Mandiri. Semua demi membangkitkan masyarakat miskin di sekitarnya dari keterpurukan. Sebagian besar duta ini merupakan perempuan tangguh di daerahnya.

“Seratus duta ini mewakili jutaan peserta PNPM. Sejak 1998 cikal-bakal PNPM; PPK dan P2KP, peserta PNPM itu 88 juta orang, 76 persen kaum perempuan. Hidup kaum perempuan!” seru Sujana Royat, Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan. Kemiskinan Kemenko Kesra sekaligus Ketua Pokja Pengendali PNPM Mandiri. 

Saat konferensi pers, Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Desa RI (PMD), Tarmizi A. Karim menjelaskan keharuannya melihat masyarakat dari tertatih-tatih menjadi aktif sebagai subyek pembangunan. 
“Program Pemberdayaan Masyarakat dengan PNPM Mandiri Perdesaan dan Perkotaan itu telah menyemai bibit-bibit di seluruh nusantara. Orang di desa-desa menjadi kader pembangunan,” ujar punggawa PNPM Mandiri Perdesaan  ini. 

Naomi Bole, Duta PNPM dari NTT membagi kisahnya sebagai petani sekaligus tim verifikasi kecamatan. Peningkatan keterampilan kelompok tenun berbuah manis dari semula bermodal Rp1 jutaan, kini mengelola Rp 193 juta. 

“PNPM suatu nilai yang sangat tinggi bagi saya. Karena tepat sasaran dan transparansi, bebas dari korupsi. Itu saya lihat karena bunganya rendah sekali, 1 persen. Bagi kita keluarga miskin bisa mengelola dana itu secara bagus. Peningkatan pendapatan dan Sumber Daya Manusia pasti berubah karena PNPM,” ujar Naomi berseru penuh semangat. 

Peningkatan kapasitas bersama PNPM Mandiri juga dinilai Suminto penting dalam membalikkan kondisi ekonomi dari keterpurukkan. Berkali-kali bangkrut membuat Duta PNPM dari Banjarnegara ini berkenalan dengan PNPM Mandiri pada 2010. Dengan dukungan permodalan dan pembinaan, usaha Suminto bangkit. 

“Tahun 2013 kami sudah tidak menggunakan (dana PNPM) lagi karena kelompok saya sudah jadi asosiasi membina 53 kelompok pembudidaya dan 13 kelompok pengolah. Tapi, program ini kami minta lebih banyak untuk mereka yang ingin maju dan yang membutuhkan. Untuk itu saya mohon, program yang sudah bagus harusnya dipupuk, dibaguskan lagi,” papar Suminto. 

Para Duta PNPM ini juga termasuk Penerima Penghargaan dan enam Pemenang Lomba Cerita dan Foto 1001 Jejak PNPM Mandiri.  Penyerahan penghargaan diserahkan langsung oleh Sujana Royat dari PNPM Mandiri dan Budiman Sudjatmiko dari DPR RI. Karya para pemenang lomba 1001 Jejak PNPM Mandiri dipamerkan di gerbang Temnas. Banyak pengunjung yang tampak berfoto-foto di area pameran lomba. 

Duta PNPM mengikuti pelatihan di Jakarta pada 8 Mei 2014. Rangkaian pelatihan bersama tim Inspirit menempa kemampuan berkomunikasi para duta. Mereka berbagi cerita tentang kondisi daerahnya sebelum dan sesudah mengenal PNPM Mandiri. 
Saat berbagi cerita di pelatihan Inspirit, Duta PNPM, Junaedy Bole dari PNPM Perkotaan Ambon, Maluku menceritakan perubahan pola pikir masyarakat. Pasca konflik, masyarakat banyak kehilangan pekerjaan. Awalnya mereka memandang pembangunan daerah sebagai proyek pendulang uang untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. PNPM Mandiri hadir dengan dana yang minim, tapi bisa mengajak masyarakat bekerja sama. Nilai swadaya yang tadinya kecil bisa meningkat. Rancangan sederhana berubah menjadi lebih kokoh.  
“Akhirnya bisa menjadi satu lagi. Kebanggaan kami, PNPM bisa menyatukan dua perbedaan paska konflik Maluku,” ujar Junaedy dengan logat Indonesia Timur yang kental.  
 
Pada 9 Mei 2014, Duta PNPM membaca seruan keberlanjutan PNPM Mandiri menuju Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PU, Kementerian Kelautan & Perikanan, Kementerian Parwisata dan Ekonomi Kreatif, Bappenas, dan Kemenko Kesra.

Saat berjumpa dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Ri’in, Duta PNPM dari Lombok menuturkan perjuangannya melawan rentenir yang disebut masyarakat sebagai “Bank 46”, pinjam 4 kembali 6. Bersama para “janda TKI” yang ditinggal suaminya bekerja di Malaysia, Ri’in mengembangkan kelompok penenun kain tradisional. Bersama mereka berdaya membentuk koperasi untuk memperkuat permodalan. 

“PNPM mengubah pola pikir masyarakat. Dulu mengandalkan kiriman suami, sekarang bisa menghasilkan sendiri,” ujar Ri’in bangga karena bisa menjadi pemimpin kelompok kendati hanya bersekolah hingga kelas 2 SD. 

Air mata haru dan apresiasi
Berbagai kisah perjuangan para Duta PNPM ini membawa rasa haru. Lisa, Duta PNPM mengisahkan perjuangannya sebagai transgender. Lisa sering mengalami diskriminasi yang membuatnya malu dalam mengakses layanan kesehatan. Kini dia tampi percaya diri setelah mendapat advokasi dari PNPM Mandiri. Bahkan, berhasil membuka usaha salon.
 
“Kami merasa lebih diakui dan dipedulikan bangsa ini. Bangga karena ada program pemerintah yang menyentuh transgender,” tutur Lisa yang disambut derai airmata para Duta yang mendengarkannya.
Air mata haru juga berderai di Monas. Rahma, Duta PNPM membawa kisah pilu. Gadis cilik penyandang tuna daksa kaki dan tangan ini ditinggal ayahnya sejak kecil karena malu. Kondisi ini membuat Rahma tidak percaya diri. Akibat sering diolok, Rahma baru berani sekolah pada usia 8 tahun. Tapi, bantuan kaki palsu dari PNPM Generasi berhasil membuatnya semangat belajar.    

Kisah pejuang pemberdayaan masyarakat ini mendapat beragam apresiasi positif. Dalam Dialog Nusantara Berdaya, para inspirator yakni Sujana Royat (Pokja Pengendali PNPM Mandiri), Tarmizi A. Karim (Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Desa RI/ PMD), Budiman Sudjatmiko (DPR RI), Erna Witoelar (mantan Duta Khusus PBB untuk MDGs), dan Nani Zulminarni (Koordinator Nasional PEKKA) menyerukan kekagumannya pada para Duta PNPM. 
“Inspirator tidak berhenti di dirinya, terus belajar, tidak berhenti pada satu hasil. PNPM telah mengantar masyarakat desa berdaulat,” ujar Nani. 

Kisah-kisah lain dari para juara kehidupan PNPM Mandiri tertuang pula pada buku Berdaya Di Kaki Langit Indonesia bekerja sama dengan Katadata yang diluncurkan di pentas Temnas. Buku ini berisi 100 tokoh yang mengisahkan perjuangan untuk memberdayakan masyarakat sekitarnya menjadi mandiri. 

“Tidak ada alasan untuk pesimis, Indonesia akan hancur. Tidak ada alasan untuk pesimis, Indonesia akan rusak. Karena yang tampil di sana tadi itu adalah masa depan Indonesia yang semua ingin kita lihat dan ingin kerjakan. Yang harus dilakukan pemimpin, politisi, adalah belajar dari mereka,” ujar Budiman Sudjatmiko, anggota DPR RI seusai menyaksikan kisah penuh semangat Duta PNPM. 
Langkah pemberdayaan masyarakat melalui PNPM Mandiri telah membuktikan tajinya hingga pelosok Indonesia. Erna Witoelar menilai tugas selanjutnya adalah memikirkan keberlanjutannya. Fasilitas yang sudah dirintis dan dana yang mengalir langsung ke perdesaan bisa lestari.

“Masih banyak di instansi, dana-dana bansos cuma dikasih begitu saja. Itu harus juga di-PNPM-kan! Artinya prosesnya seperti PNPM, memberdayakan masyarakat,” ujar mantan  Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah ini. 

Seusai dialog Nusantara Berdaya yang dipandu selebritas Anya Dwinov, para hadirin di Monas santai sejenak menyaksikan Pesta Rakyat PNPM Mandiri. Tarian daerah, paduan musik tradisional dan modern, serta humor menggelitik standup comedian Ari Keriting menyegarkan udara Monas yang panas.  

Para hadirin di Monas bergabung untuk bernyanyi dan berjoged bersama. Pejabat, Duta PNPM, pelaku PNPM Mandiri, pengisi booth pameran, hingga masyarakat sekitar bersatu dalam lagu. Duta PNPM dari Komunitas Kreatif, Yandi Pratama memandu semua bergoyang dangdut. 
“Siapapun presidennya, programnya satu tujuan!” lantunan lirik lagu kreasi Yandi. Semoga harapan ini menjadi nyata. 

Sumber : Sini

PNPM di Banjarnegara

PNPM di Banjarnegara

April 27, 2011
Tulisan ini di susun sesaat setelah saya selesai menyusun laporan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan PNPM-MP di kab banjarnegara. saya terdorong menulis ini setelah saya sadar betapa unik mekanisme ‘perbankan’ yang diterapkan pada program PNPM. beberapa waktu lalu (dan masih sampai sekarang..) kita begitu terpesona dengan konsep grameen bank yang membawa dr mohamad yunus menjadi salah satu penerima nobel yang paling fenomenal. konse tersebut berhasil membiayai dan mengangkat harkat hidup jutaan warga miskin di Bangladesh, yaitu dengan menyediakan bank yang dapat menyalurkan dana dengan mengabaikan prinsip2 kehati2an bank (prudentiality). dalam menyalurkan kredit mereka mengabaikan capita, capacity, & colateral..alhasil institusi tersebut menjawab kebutuhan modal untuk orang2 yang berada di bawah batas kemiskinan paling rigid. satu2-nya yang membuat mereka bertahan, sebatas pemahaman saya, adalah sistem yang terbangun, prosedur pengelolaan kredit, dan emotional bond yang tercipta antara nasabah terhadap tujuan dari grameen benk itu sendiri.
hal itulah yang ternyata saya sadari terjadi pada pelaksanaan program simpan pinjam di PNPM-MP. lending itu dikelola oleh sebuah badan kecil yang beranggotakan hanya 3 sampai 5 orang di tiap2 sub district/kecamatan. dimana badan tersebut oleh peraturan perundangan dilarang memiliki bentuk hukum sebagai lembaga keuangan. di tambah lagi, pinjaman2 yang diberikan merupakan hasil musyawarah, yang mana badan yang bernama UPK-PNPM tersebut tidak memiliki payung hukum untuk menyita apapun dari debitur yang ngemplang utang, karena memang untuk mendapatkan peinjaman sama sekali tidak dibutuhkan jaminan.
lalu apa yang membuat mereka bisa bertahan, bahkan beberapa di antara UPK-UPK tersebut mampu menggandakan nilai asetnya secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini. jawabannya ada pada mekanisme penyaluran kredit mereka. setiap kelompok, yang kemudian di breakdown sebagai person, yang mengajukan permohonan kredit akan memperlombakan proposal pengajuan mereka dalam sebuah forum yang di ikuti oleh warga. semua rencana-rencana mereka akan di ekspos pada forum tersebut, kemudian forum-lah secara musyawarah terbuka yang akan menentukan proposal mana yang akan diprioritaskan memperoleh pinjaman. musyawarah/forum2 yang lain yang berfungsi sebagai evaluasi periodik-pun diadakan sepanjang waktu, dalam format yang menyenangkan dan tidak merepotkan. dengan begitu perkembangan hutang2 tadi selalu termonitor oleh masyarakat secara bersama2, walaupun forum tersebut tidak berhak untuk mencampuri internal affair tiap2 debitur ataupun kelompoknya. namun demikian, jika ada keterlambatan yang tidak beralasan, akan segera teridentifikasi dan ter-ekpos pada forum. apalagi jika terjadi semacam fraud atau terdapat moral hazard, yang sering menjatuhkan bank2 besar, yang bersangkutan akan suffering social condempnation dari masyarakat sekitarnya, believe me it is far more effective in our rural culture.
pada kultur pedesaan kita, sanksi sosial jauh lebih efektif daripada law enforcement, karena dengan penanganan secara hukum rasio cost and benefit-nya menjadi tidak masuk akal. itulah yang terjadi, orang di desa lebih takut menjadi gunjingan tetangganya daripada masuk penjara..?? ironis.
singkat cerita, inilah wajah potensi pedesaan kita sebenarnya. sebenarnya jika masyarakat di pedesaan diberi akses yang cukup kepada modal, ada  banyak hal yang bisa mereka lakukan. ini di buktikan dengan suksesnya program PNPM-MP. dan beginilah seharusnya lebaga keuangan itu berfungsi..sebagai agent of development, untuk menyalurkan dana kepada sektor riil, bukan hanya untuk bertransaksi di pasar uang antar bank, invest di SBI, dll. uang tersebut mestinya disalurkan sebanyak2nya ke sektor riil sehingga perputaran uang meningkat dan multiplier effect-nya dirasakan langsung oleh masyarakat di semua lapisan produksi dan pasar.

Sumber : Sini

Caleg Diminta Mundur dari PNPM

 

BANJARNEGARA, SATELIPOST- Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Banjarnegara menemukan 14 calon anggota legislatif DPRD Kabupaten menjadi bagian dari pelaku program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) di sembilan kecamatan. Hal tersebut disampaikan anggota Panwaslukab Banjarnegara divisi pengawasan, Tjefi Hidayat kepada SatelitPost, Selasa (21/1).
Menurut Tjefi, keberadaan caleg yang masih menjadi pelaku PNPM seharusnya mengundurkan diri dari PNPM agar tidak terjadi konflik kepentingan dan praduga caleg tersebut memanfaatkan program pemerintah untuk kepentingan politik.
“Berdasarkan edaran dari Menko Kesra no B.2013/KMK/D.VII/X/2013 pertanggal 22 Oktober 2013, tegas dinyatakan larangan bagi pemanfaatan PNPM mandiri untuk kegiatan politik praktis. Caleg tersebut harus melepaskan jabatannya di PNPM tersebut,” katanya.
14 caleg tersebut berada tersebar di Sembilan kecamatan, antara lain di Kecamatan Susukan satu orang, Purwanegara satu orang, Banjarnegara dua orang, Sigaluh dua orang, Madukara satu orang, Punggelan satu orang, Pejawaran dua orang, Pagentan dua orang dan Kecamatan Batur sebanyak dua orang.
Tjefi juga meminta untuk surat pengunduran diri dari PNPM segera diajukan ke bagian pembedayaan masyarakat desa (PMD) dengan tembusan kepada Panwaslu.
Selain caleg masih aktif pada kegiatan PNPM, Panwaslu juga menemukan ada seorang caleg kabupaten dari partai tertentu yang terlibat aktif dalam kepanitiaan pembangunan penyedia air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) di Kecamatan Kalibening.
Ketua Panwaslu Kecamatan Kalibening, Suseno, mengatakan, secepatnya akan menemui caleg tersebut agar tidak terlibat atau mengundurkan diri dari kepanitiaan pamsimas, sehingga tidak menjadi hal yang tidak mengenakkan bagi partai yang lain. “Kami masih mempelajarai sejauh mana keterlibatan caleg tersebut. Jika memang menjadi panitia inti, akan kami minta untuk melepaskan jabatan tersebut,” katanya. (gatotgat@yahoo.com)

Sumber : Sini

Integrasi PNPM –MP dalam Musrengbang

Senin, 14 Maret 2011

BANJARNEGARA-Rencana pelaksanaan integrasi program perencanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat–Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) ke dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) akan memberikan peluang bagi terbentuknya pola relasi baru antara pemerintah dan masyarakat dalam kerangka pembangunan daerah. Pola baru itu adalah kebijakan pembangunan partisipatif yang tidak lagi top down namun secara berangsur menuju pada kondisi ideal.
 Secara implisit, rencana pengintegrasian program tersebut telah memberikan pengakuan terhadap keberhasilan model perencanaan yang dilakukan oleh PNPM-MP selama ini, sehingga bersama dengan program-program yang lain, PNPM-MP telah menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah. Demikian dikatakan Oleh Kepla KPMD Kabupaten Banjarnegara Drs Suroso Ketua Penanggungjawab Operasional PNPM Kabupaten melalui Izack Danice Aloys TIM Koordinasi PNPM MP Sabtu (15/1) kemarin.
” Tidak bisa dipungkiri bahwa aplikasi pemberdayaan dalam setiap tahapan pada PNPM-MP telah banyak diterima di kalangan masyarakat maupun pemerintah, terutama pemerintah desa dan kecamatan sebagai pusat kegiatan PNPM-MP,” ucapnya kemarin.
Paradigma baru yang dibawa oleh PNPM-MP berupa pembangunan partisipatif telah memposisikan masyarakat sebagai pelaku utama dan terlibat langsung dalam penyelenggaraan urusan publik, diantaranya ikut mengambil keputusan, ikut melaksanakan dan ikut memonitor hasil-hasil pembangunan. “ SE Dirjen PMD dikuatkan dengan surat edaran bupati, dipersiapkan 2011  PNPM yang tidak direncanakan harus mengikuti UU Perencanaan pembangunan UU no 25/2004, utuk ikut dalam perencanaan reguler musrengbangdes,” ucapnya lagi
Disamping menumbuhkan harapan sebagaimana diuaraikan di atas, rencana integrasi program ini memunculkan tantangan, yaitu adalah adanya garansi yang dapat menjamin konsistensi pelaksanaan hasil-hasil perencanaan yang terintegrasi dalam musrenbang. Bagi desa yang menunggak PNPMnya akan ada sangsi lokal tidak diberikan perguliran dana, sesuai dengan ketentuan yang ada. ”Dengan mengedepankan kebijakan tersebut maka pengintegrasian dapat dilaksanakan sebagai suatu sistem baku Pembangunan Partisipatif di Indonesia, pelaksanaan perencanaan reguler musrengbang 2010 percepatan 2011, untuk tahun ini PNPM dari BLM sebesar Rp 46. 6 M, pendapingan APBD sebanyak Rp 9,6 M,” pungkasnya (Hrm)
 
Sumber: Sini

Kelompok Usaha Maju Bersama, Kembangkan Potensi Lokal Dengan Dana PNPM



BANJARNEGARA-Carica yang merupakan salah satu buah khas  Dieng menjadi komoditas yang di kembangkan oleh Kelompok usaha Maju bersama  Desa Kepakisan Kecamatan Batur. Melalui bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesan kelompok ini mengembangkan sirup carica sebagai komoditas untuk meningkatkan penghasilan bagi masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok usaha Maju bersama .

Ketua Kelompok usaha bersama Mujiati menyampaikan, kelompok yang berdiri pada tahun 2012 tersebut beranggotakan 18 orang yang terdiri dari ibu rumah tangga di Desa Kepakisan.

“Kelompok kami mengawali usaha bersama dengan bantuan sebesar Rp. 19 juta dari PNPM Mandiri pedesaan, bantuan tersebut kami manfaatkan untuk mengembangkan usaha carica. Selain bahannya yang mudah di dapat, mengembangkan carica sama saja mengembangkan potensi buah yang dimiliki kecamatan Batur,” kata Mujiati

Setiap hari lanjut Mujiati, kelompoknnya membuat 35 kilogram carica pada hari hari biasa, namun jika musim panen mampu memproduksi hingga 50 kilogram per hari.
“Setiap hari kami bekerja selama 8 jam, bila musimpanen kami bekerja selama 10 jam, “ lanjutnya.
Bahan-bahan utama yaitu buah carica juga tidak terlalu sulit mendapatkannya, karena di Desa Kepakisan juga banyak terdapat buah  tersebut.

Berkat peningkatan kapasitas kelompok tani Maju bersama ini mampu memproduksi Hasil pembuatan carica dibungkus dengan berbagai kemasan yaitu dalam bentuk Cup, Gelas, dan kaleng kaca dengan berbagai variasi harga tergantung kemasan.

 “Hasil produksi carica kami pasarkan ke berbagai kota seperti Jakarta, Tegal, Semarang, Cilacap, Jogja dan pasaran lokal di Banjarnegara, Wonosobo,” tambahnya.

Sebagian dari keuntungan hasil penjualan tersebut digunakan untuk meningkatkan usaha , dan sebagian di gunakan sebagai penghasilan dari pekerja yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga.
                
Kepala Desa Kepakisan Hamid Sobar mengatakan kelompok tani maju bersama yang sebagian besar beranggotakan ibu-ibu rumah tangga tersebut memanfaatkan dana PNPM Mandiri untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki desanya yaitu carica.
               
Menurutnya selain mudah di dapat karena banyak terdapat di Desa Kepakisan, Carica juga merupakan buah yang harus dilestarikan dan dikembangkan.
                
“Jika carica di jadikan salah satu produksi otomatis kelestariannya akan terjaga karena para petani dituntut untuk selalu bisa menyediakan buah carica bagi pelaku usaha yang setiap saat membutuhkannya,” kata Hamid
                
Sementara Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo di sela-sela kunjungannya ke Desa Kepakisan mengatakan salah satu upaya pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan memberdayakan masyarakat melalui berbagai kegiatan usaha seperti yang dilakukan oleh kelompok usaha maju bersama.
               
 “Pemerintah sangat mendukung kegiatan pemberdayaan kelompok yang bermuara kepada pengentasan kemiskinan, pemkab juga pasti akan memberikan bantuan permodalan untuk mengembangkan usaha produktif seperti yang dilakukan kelompok usaha bersama ini dalam memproduksi carica,” kata Sutedjo.(**anhar)

Sumber : Sini

TEMPE KRIPIK DARI DESA GUNUNG LANGIT

Salah satu produk khas dari Kecamatan Kalibening adalah tempe kripik, diantaranya adalah yang diproduksi dari Desa Gununglangit.











Bookmark and Share

Opak Gethuk Desa Majatengah

Produk Opak Gethuk sudah jadi (dalam kemasan)


Habis digoreng








Bookmark and Share



Oleh : Paino

WAJIK KLETHIK DARI DESA KALIBENING

Makanan khas yang menjadi trade mark nya Kecamatan Kalibening adalah wajik Klethik. Makanan ini banyak diproduksi di Desa Kalibening.














Oleh : Paino

TASYAKURAN PEMAKAIAN KANTOR UPK KALIBENING

5 November 2009

UPK Kalibening merupakan salah satu unsur pelaku Program PNPM Mandiri Perdesaan. Semula UPK menempati di salah satu ruangan di Kantor Kecamatan Kalibening. Seiring perkembangan kegiatan dan pelayanan UPK, tempat tersebut dirasa sudah kurang memadai untuk menampung aktivitas dan arsip UPK. Oleh karena itu, meski sifatnya masih menyewa, sejak tanggal 20 Agustus 2009 yang lalu UPK menyewa sebuah rumah yang dijadikan Kantor UPK Kalibening. Lokasinya di depan Kantor Kecamatan Kalibening, tempat yang cukup strategis untuk melaksanakan aktivitas UPK.

Peresmian tempat yang dijadikan kantor UPK tersebut ditandai dengan pembukaan papan nama UPK dan pintu kantor oleh Camat Kalibening, Bapak Sayfulloh, S.Sos.

Selain itu, pada saat persemian tersebut juga dibarengkan dengan acara tasyakuran UPK atas keberhasilannya dalam penyelesaian salah satu masalah di UPK yaitu penanganan tunggakan pinjaman. Dalam acara ini antara lain diadakan penyembelihan 2 ekor kambing atas sumbangan salah satu tokoh dari staf Kantor Kecamatan Kalibening.















Para tamu undangan yang hadir dalam acara peresmian kantor UPK. Mereka terdiri dari para Kepala Desa se kecamatan Kalibening, para kader desa dan beberapa instansi sektor kecamatan.

Pak Sayfulloh (Camat) sedang membuka tirai papan nama UPK


Dilanjutkan dengan membuka pintu kantor



Para Kader Desa sedang unjuk kebolehan menampilkan puisi dan lagu-lagu bertema pedesaan



Ini rekaman videonya. Maaf, kualitas gambar kurang bagus, maklum hasil bidikan HP


Ya, semoga dengan kantor yang baru tersebut kinerja UPK semakin baik dan juga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi masyaraat Kalibening, khususnya dari keluarga kurang mampu.

Oleh : Paino , pernah ditulis di http://kalibening-ok.blogspot.com/search/label/PNPM-MP

MUSYAWARAH ANTAR DESA (MAD) SOSIALISASI PNPM-MP

Musyawarah Antar Desa Sosialisasi dalam rangka Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan telah dilaksanakan di Aula Kecamatan Kalibening pada tanggal 28 Januari 2009.



 
Oleh : Paino, pernah ditulis di :http://kalibening-ok.blogspot.com/2009/11/musyawarah-antara-desa-mad-sosialisasi.html

Pesta Blogger dan Promosi Produk Unggulan 2013

bd 

Sejak tahun 2008 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Masyarakat Pedesaan (PNPM-MP) telah ada ditengah masyarakat guna memberikan bantuan untuk kesejahteraan masyarakat pedesaan baik pada pengembangan sarana-prasarana, kesehatan, pendidikan, peningkatan kapasitas dan simpan pinjam perempuan.
Keberadan PNPM-MP yang bekerjasama dengan Rumah Belajar Masyarakat Banjarnegara (RBM) dirasa memberikan nilai lebih, karena informasi yang ada pada PNPM sudah dapat diperoleh melalui media blogger yang berada dibawah binaan Ruang Belajar Masyarakat Banjarnegara.
Menurut fasilitator PNPM Kabupaten Banjrnegara Eko, keberadaan para blogger sangat membantu PNPM dalam menyampaikan informasi kegiatan secara online sehingga keberadan PNPM tidak hanya untuk kalangan orang tua tetapi remaja saat ini juga mulai mengetahui tentang keberadaan dan kegiatan PNPM itu sendiri.
Kabupaten Banjarnegara sangat kaya akan potensi daerah yang luar biasa, namun sayang hal ini belum mampu dieksploitasi secara nasional apalagi secara mendunia, sehingga praktis nama Banjarnegara menjadi kurang terkenal.
Masyarakat di luar lebih mengenal Banjarmasin atau Banjarpatoman saat mendengar kalimat Banjar tentu saja hal ini sangat disayangkan, padahal berbagai macam oleh-oleh khas banjarnegara dan kerajinan saat ini telah banyak dihasilkan oleh para kelompok UPPKS di Kabupaten Banjarnegara.
Hal ini disampaikan oleh Kepala PMD Imam Purwadi mewakili Bupati Banjarnegara saat membuka acara Pesta Blogger dan Promosi Produk Unggulan PNPM-MP yang bekerjasama dengan Ruang Belajar Masyarakat Banjarnegara (RBM), bertempat di Ballroom Central Hotel Banjarnegara minggu 20 Januari 2013.
Diharapakan oleh Imam Purwadi dengan diadakannya Pesta Blogger ini akan dapat membantu para pemilik produk lokal memasarkan hasil olahannya dengan cara online. Dengan 700 bloger yang ada di Kabupaten Banjarnegara, diharapkan akan dapat membantu mempopulerkan nama Banjarnegara di kancah nasioanal maupun internasional.
Acara Pesta Blogger dan Promosi Produk Unggulan juga dimeriahkan dengan kegiatan lain berupa Pameran  Produk Unggulan UMKM, Free Internet Service, Free Blog Short Course, Live Blog Competion serta diramaikan oleh 20 stand UPPKS yang memamerkan produk-produk olahannya (Sapta Maria).

Sumber: sini

Pelatihan Dasar-Dasar Manajemen Kelompok

Sumber : Suara Merdeka, 4 Desember 2012

MUSYAWARAH DESA PERSIAPAN PNPM 2013

Senin, 18 Februari 2013



Bertempat di Balai Desa Merden dilaksanankan Musyawarah Desa. Acara yang langsung di pandu oleh Kepala Desa Merden, Achmad Badrusaalam tersebut secara khusus membahas tentang persiapan pelaksanaan PNPM tahun 2013. Sesuai hasil Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes) tahun 2012 telah disepakati bahwa pelaksanaan PNPM tahun 2013 berada di wilayah Banter Dusun I Desa Merden. Kemudian pembahasan dilanjutkan lagi pada acara Musrenbangdes tahun berikutnya, yakni di tahun 2013. Pada Musrenbangdes 2013 beberapa waktu yang lalu pembahasan hanya seputar pemilihan anggota TPK (Tim Pelaksana Kegiatan) PNPM dimana telah disepakati :

Ketua Sdr Nartim
Sekretaris Sdr Heru Rahutomo
Bendahara Sdri Miswati

Kemudian dalam perkembangannya, Sdr Nartim selaku ketua terpilih menyatakan tidak sanggup untuk melanjutkan tugasnya dikarenakan faktor kesibukan pekerjaannya selaku Pegawai Negeri Sipil di jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara. Akhirnya Kepala Desa Merden menunjuk Sdr Khadirin Farkhani sebagai pengganti untuk melanjutkan tugasnya sebagai Ketua TPK pada pelaksanaan PNPM tahun 2013.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Merden (Achmad Badrussalam) kembali mengingatkan kepada para peserta musyawarah tentang pentingnya semangat bergotong royong dalam membangun desa. “Alokasi PNPM tahun ini jumlah alokasi anggarannya berkurang hampir separoh dari jumlah alokasi PNPM tahun lalu. Padahal sesuai usulan RAB yang telah kita kirim, membutuhkan dana kurang lebih Rp 350 juta untuk merealisasikan program PNPM di tahun 2013 ini.  Oleh karena itu Kepala Desa meminta kepada segenap perangkat desa, ketua RT dan panitia bisa memaksimalkan swadaya masyarakatnya agar usulan program PNPM tahun ini bisa terwujud tanpa mengurangi kualitas dan mutu pekerjaan. Artinya masyarakat dituntut untuk bergotong royong membantu memaksimalkan swadaya masyarakat agar dana yang diterima bisa cukup untuk mewujudkan target pelaksanaan terutama program fisiknya”, kata Kepala Desa dalam sambutannya. Menurut informasi yang disampaikan oleh Ketua TPK (Khadirin Farkhani), sesuai hasil Musyawarah Antar Desa PNPM 2013 di Kecamatan Purwanegara, pada tahun ini jumlah total anggaran yang diperoleh untuk PNPM di Desa Merden adalah Rp 145.459.100,- dengan rincian sebagai berikut :
  1. Pekerjaan pembangunan jalan rabat beton sepanjang 735 m
             -  Kegiatan Fisik Rp 84.128.000,-
             -  Operasional UPK ( 2%) Rp 1.782.000,-
             -  Operasional TPK ( 3%) Rp 2.673.000,-
             Total Rp 89.128.000,-
       2. Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP)
            -  Kegiatan Rp 12.000.000
            -  Operasional UPK ( 2%) Rp 250.000,-
            -  Operasional TPK ( 3%) Rp 378.000,-
            Total Rp 12.630.000,-
        3. PKH/PMT
            -  Kegiatan Rp 41.516.100,-
            -  Operasional UPK ( 2%) Rp 874.000,-
            -  Operasional TPK ( 3%) Rp 1.311.000,-
            Total Rp 43.701.000,-

Selanjutnya Kepala Urusan ( KAUR) Pembangunan Desa Merden (Sudin Prihadi) melanjutkan musyawarah untuk menyusun kelengkapan kegiatan PNPM yakni membentuk anggota TIM 18 yang terdiri dari :
1. TIM 6 Anggotanya :
    -  Basyiron RW
    -  Arif Wibowo
    -  Mustolah
    -  Marsudi Ahmad
    -  Nurlaeli
    -  Rundiati
2. TIM 5 Anggotanya :
     -  Taat Sidiq Gunawan, S.IP
     -  Sudin Prihadi
     -  Sajangah
     -  Tuslam
     -  Kastadi
3. TIM 4 Anggotanya :
    -  Wastono Sangad
    -  Minarto Mirin
    -  Makhudin
    -  Tawil
4. TIM 3 Anggotanya :
     -  Ujiono
     -  Sangadi
     -  Aminah

Setelah kelengkapan tim terbentuk maka acara Musyawarah Desa selesai dan sebelum ditutup Sekretaris Desa Merden (Taat Sidiq Gunawan,S.IP) menyampaikan beberapa informasi penting kepada para peserta. Semoga PNPM 2013 akan berjalan lancar, sukses dan transparan sesuai harapan kita bersama, amin.

Sumber : Sini

PERESMIAN JEMBATAN DI DESA MERTASARI KECAMATAN PURWANEGARA OLEH BUPATI BANJARNEGARA

Jembatan yang sangat di impi-impikan oleh masyaakat desa Mertasari akhirnya terwujud,  dengan menghabiskan dana yang tidak sedikit . Bantuan dari Dana PNPM sebesar Rp 271.463.000,- dari swadaya masyarakat desa Mertasari sebesar Rp 62.323.000 total keseluruhan sebesar Rp 333.786.000,- dengan volume 3m x  36m. .Dibuat nya jembatan tersebtut memudah kan para petani yang akan mengangkut hasil panen mereka, di samping itu jembatan tersebut menghubungkan antara desa Mertasari dan Desa Karanganyar. Semoga Pemerintah tetap meneruskan program tersebut.

Peresmian yang di tandai dengan pemotongan pita
oleh Bupati Banjarnegara. Yang disaksikan oleh Camat Purwanegara, PJOK , seluruh Kepala Desa Se Kecamatan Purwanegara,beserta masyarakat Desa Mertasari pada khususnya.
 Ini adalah pemotongan rambut sebagai bukti nadar dari masyarakat desa Mertasari
 Seluruh Desa Mertasari yang ikut berbahagia dan ikut berpartisipasi dengan membuat tumpeng untuk di makan bersama
BANGKIT BERSAMA UNTUK MANDIRI
SEGENAP PELAKU PNPM KECAMATAN PURWANEGARA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS KERJA SAMA YANG BAIK
 
Sumber : Sini